Pages

03 May 2012

The taste of being rejected...


Capek. Itu yang saya rasa belakangan ini. Well, ini bukan masalah ditolak dalam hal cinta-cintaan. Tapi kali ini adalah soal jodoh....pekerjaan. Sudah lebih kurang 8 bulan saya melepas status saya sebagai mahasiswa, dan sampai saat ini saya masih belum menyandang status baru. Saya masih luntang lantung kesana kemari dengan status saya sebagai jobseeker, loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dari mulai jakarta paling selatan sampe utara sampai subuh-subuh ke bogor sendiri pun saya penuhi, dari satu jobfair ke jobfair lain yang terkadang datang ke jobfair serasa hanya seperti sedang main-main. Karena dari sekian banyak cv yang saya sebar ke berbagai perusahaan yang ada, hampir semua tidak kelihatan hasilnya. Entah sudah berapa banyak cv dan poto yang sudah saya sebar dan masuk tong sampah di berbagai perusahaan

Terkadang saya capek untuk menjawab pertanyaan ‘udah apply dimana aja?’, karna begitu banyak cv yg saya kirim maupun dengan mengklik button ‘apply’ di website yang operatornya bernama lina yang sudah terkenal dikalangan pencari kerja. Sampai terkadang saya pun lupa saya pernah apply ke perusahaan terkait karena lagi-lagi tak begitu berbeda main-mainnya dengan jobfair, hal ini pun berlaku sama. Terkadang saya juga merasa capek untuk berkali-kali merangkai kata untuk menjawab pertanyaan ‘apa kekurangan anda?’ atau  ‘kenapa anda apply kesini?’, di tempat yang berbeda-beda. 

Dari sekitar 30an teman kuliah seangkatan saya, yang sama-sama merasakan manisnya alunan lagu Gaudeamus Igitur 8 bulan yang lalu, hanya saya yang statusnya masih belum berganti. Bahkan di antara mereka sudah ada yang beberapa kali ganti kerjaan dan bahkan yang baru 2 bulan melepas status mahasiswa pun sudah banyak yang mendapatkan pekerjaan. Sedangkan saya? ya masih gini-gini aja.

Menjadi satu-satunya orang yang belum berganti status diantara teman-teman setoga bareng, diantara sahabat satu peer group saat kuliah, dan diantara sahabat yang memiliki mimpi yang terekam dalam sepersekian menit, sedikit menjadi beban buat saya. Mungkin mereka menganggap saya sekarang adalah orang yang sombong karna sering absen kalau diajak temu kangen. Sejujurnya saya pun tidak kalah rindunya untuk ber’haha-hihi’ ria dengan mereka. Namun saat ini ada rasa tidak nyaman bagi diri saya. Selain karna memang saya belum punya penghasilan dan ada rasa tidak enak menghamburkan uang orangtua disaat saya seharusnya ada diposisi memberi bukan lagi meminta, ada  juga rasa tidak nyaman yang timbul ketika berkumpul dan membahas tentang pekerjaan masing-masing, klien, dan lainnya. 

Saya tidak pernah mengingkari bahwa rejeki itu di tangan Allah SWT, sudah ada plot-plotnya tersendiri untuk masing-masing orang.  Saya sangat percaya hal itu. Namun, terkadang sebagai manusia biasa ada titik-titik tertentu dimana saya merasa lemah untuk mengontrol diri saya agar tidak larut dalam kesedihan. Sekarang, saya cuma berharap semoga ada hasil terindah yang Allah SWT siapkan untuk saya didepan sana dan akan segera saya terima. Aamiin... Dan bersyukurlah kalian yang dengan mudah dipertemukan dengan jodoh pekerjaannya oleh Allah SWT. :)

6 komentar:

Kiki said...

Pedang yang selalu diasah akan lebih mematikan ketika dipakai untuk berperang :)

fajri ajah said...

amiinnn, jangan nyerah mul
ketika lu percaya lu pasti bakal dapet yang terindah, yang terberkah :D

Mulki Rakhmawati said...

keep being strong :D

ummu.zakiyyah said...

Miyak!!!HWAITING!!!Semangat!!hehehe *ketjups

dhay said...

mia'.. dian mah salut mia' sm usaha mia' selama ini. malu jadinya sm diri sendiri yg usahanya maish kurang. ahuuu.

hesty said...

waw,,, saya juga kek gini 3 bulan yang lalu,, tapi percaya deh, rejeki buat mba mia lagi ditangguhkan untuk nanti diberi secara sekaligus :)