Pages

12 February 2011

'raindrops' on my cheek

Dari kecil sampai sekarang, saya merupakan tipe orang yang tidak pandai berbicara atau mengekspresikan sesuatu melalui untaian kata secara langsung kepada orang lain. Bukan hanya disaat-saat formal seperti saat presentasi, diskusi atau semacamnya saja, tapi disaat-saat yang tidak formal pun terkadang saya tidak pandai mencurahkan apa yang ada di hati dan pikiran saya. Saya bukan tipe orang yang dengan mudah mengekspresikan masalah yang saya hadapi kepada orang lain. Bahkan kepada orang yang sangat dekat sekalipun, termasuk orang tua dan kakak saya. Walaupun terkadang mencoba mengeluarkannya *walaupun hanya* sedikit, tapi tetap saja saya tidak bisa mencurahkannya secara gamblang malah tak jarang saya mengeluarkan cengiran-cengiran padahal dalam kenyataannya yang saya alami tidak demikian.

Saya memang lebih sering menyimpannya sendiri, di dalam hati. Hingga terkadang hati ini tidak lagi dapat menampung rasa dan kantung mata tidak lagi dapat menampung bulir-bulir air yang membendung. Kalau sudah begitu, saya akan memutuskan untuk langsung masuk ke kamar. Tidak baik memang menyimpan masalah sendiri seperti ini, tapi setiap kali ada masalah saya hampir selalu begitu .

Dua hari yang lalu, saya merasa sudah berada di titik dimana saya tidak dapat lagi menampungnya sendiri. Saat berada di kampus ingin rasanya segera pulang dan memeluk mama agar hati ini tenang. Ini kali pertama saya sangat sangat sangat ingin memeluk mama saya, menyenderkan kepala di dada mama dan mengadu kepada mama. Karena memang selama ini kedekatan saya dengannya tidak seperti layaknya yang digambarkan di sinetron *haeee jadi korban sinetron* ataupun kedekatan beberapa teman saya sama mamanya, saya sangat jarang cerita kepada mama saya. Jangankan curhat masalah-masalah, cerita keseharian saja intensitasnya sangat jarang. Tapi, rencana itu akhirnya saya urungkan. Karna sesampainya di rumah, mama tidak ada dan ternyata sedang pergi ke dokter. Sungguh tidak tega menambah pikiran mama yang sedang tidak enak badan dengan masalah-masalah yang saya hadapi.

Namun, sepertinya memang kali ini saya benar-benar sudah tidak sanggup menampungnya sendiri. Akhirnya di jumat yang mendung dan hujan badai kemarin saya mencurahkannya semua kepada mama dan bapak *yang ternyata masih ada di rumah (ke gap)*. Sebenarnya diri ini juga tidak tega menambah beban pikiran mereka. Tetapi tidak tahu lagi mesti mengadu kemana, karena teman-teman seperjuangan pun juga pasti mempunyai masalah masing-masing dengan tugas akhirnya dan teman dekat lainnya sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dihubungi apalagi dilempari dengan curhatan-curhatan dari saya yang memang secara keseluruhan kesalahan terletak di diri saya sendiri.

Dan dengan segala kebesaran hati seorang ibu, mama terus mendengarkan saya meracau dan menenangkan dan membesarkan hati saya yang sedang kacau. Ketika saya meminta maaf kepada kedua orangtua saya apabila kemungkinan terburuk terjadi kepada saya, lagi-lagi mereka membesarkan hati saya. Walaupun saya tau pasti akan ada sedikit rasa kecewa dilubuk hati yang paling dalam kedua orangtua saya apabila kejadian terburuk tersebut terjadi. Tapi itulah orangtua tidak mau menampakkan kesedihan di depan anaknya.

Disini, saya hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT karna saya masih mempunyai orangtua lengkap yang selalu ada mendampingi saya. Semoga mereka selalu dilindungi dan disayangi oleh Allah SWT, sebagaimana mereka menyayangi saya dengan tulus sejak saya masih menjadi janin di dalam rahim mama saya. Dan selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah SWT agar bisa melihat saya memakai toga kelak. Amiiiin... :’) love you, ma, pak. *maaf, saya lagi-lagi menambah pikiran kalian :’( *

3 komentar:

kiki said...

sama hal-nya kaya gw. Padahal pasti lebih enak ya klo komunikasi anak-orang tua berjalan lancar. Seringkali bilang terima kasih lebih mudah diucapkan untuk teman daripada untuk orang tua.

Mudah-mudah semua akan lebih mudah ya mi. Sesekali curhat sama Allah bisa membantu loh :)

Fighting :D

fajri ajah said...

apanya yang gak bisa merangkai kata??
lah ini potingan lu bikin gw mau mewek :'(

setuju ama kiki, curhat ke Allah :D

The Living Under Sky said...

Semangat miul, gue baru baca postingan lo ini. Jangan2 ini kejadian pas lo ketemu bu Titi waktu itu ya?

Seomoga kejadian buruk itu gak akan pernah terjadi dalam hidup mu, hidup gue, dan hidup kita semua.

Berjuanglah, pejuang muda di kampus perjuangan! :D